ANAK NELAYAN TUA

Sinar matahari telah menghardik, menunjukan aura penyiksaan diantara langkah kecil seorang lelaki. Bagaikan kesatria romawi, dia berjalan tegak menantang kehidupan yang sesaat membuatnya tak bernyawa. Sekejap langkahnya terhenti melihat sesosok pria berendam di kolam neraka, mengais pundi-pundi uang di tengah lautan, mencari mahkluk laut untuk menyuap keempat anak dan istrinya.
''Sebentar lagi ya, Wara!'' sahut ayah dengan penuh semangat.
Mendengar intonasi luar biasa, Wara hanya bisa terdiam, dia tidak mampu berkata apapun, jaring yang dengan penuh semangat tergenggam di tangan ayahnya, membuat lidah Wara semakin memendek. Wara tak mampu menguntai kata. Kegilaan apa lagi yang diderita ayahnya? berjam-jam lamanya berendam di kolam neraka. Sifat gila seperti itulah yang tidak Wara miliki untuk menghadapi kehidupan. Prestasi akademik yang membanggakan tidak dia miliki, sempat beberapa kali nasehat ayah hinggap di daun telinganya tetapi itu semua tidak mendapat sambutan baik. Anak berumur 13 tahun itu merasa bersalah kepada ayahnya, setiap kali sang ayah berjibaku melawan kehidupan, hanya rasa bersalah yang dia miliki tanpa ada realisasi yang berarti.
''Hai Wara, bagaimana dengan sekolahmu tadi?, lalu bagaimana dengan ulangan matematikamu? Tanya ayah yang telah menginjakkan kakinya di karang, sembari membasuh tangan di sumber air untuk siap menikmati hidangan istrinya.
''Lumayan bisa yah, apa kesehatan ayah sudah pulih?'' jawab Wara yang tidak ingin menerima ceramah panjang dari ayah, sekaligus membalikkan pertanyaan untuk mengontrol kesehatan ayahnya yang semalam suntuk memecah malam dengan suara batuk yang tak henti.
'' Sedikit lebih baik!'' kata yang diucapkan dengan nada sayup-sayup itu menyimpan makna tersembunyi, tetapi bocah lugu dan polos itu tidak mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sang ayah.
Sembari menunggu ayahnya menyantap makanan, pandangan mata Wara memutar 360 derajat lalu melihat seonggok kewajibannya, sebagai distributor hasil kerja keras pahlawan keluarga.
'' Ayah.., apakah ikan-ikan ini yang harus ku antar menuju pasar ikan?'' tanya Wara sambil mengarahkan telunjuknya menuju ikan-ikan yang tergeletak di atas karang.
Ayahpun mengiyakan, lalu segera memilah-milah ikan yang selayaknya dijual ke pasar ikan.
Tidak lama kemudian Wara telah memanggul tangungjawab besar di dalam 2 keranjang yang diamanatkan oleh ayahnya. Perlahan Wara mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ayah. Tanggung jawab besar, beban yang berat serta jarak tempuh perjalanan yang cukup jauh telah menantinya. Rasa bersalah seolah perlahan lenyap dari dalam diri Wara teriring ritme tapak kakinya yang terasa berat.
Di perjalanan ratusan orang berlalulalang mengisi seluruh memori pikiran yang terserap selama perjalanan. Jarak tempuh 2 km mengisi seluruh otot tubuh dengan timbunan asam laktat. Tiba-tiba rasa lelah yang tidak seharusnya terbebani oleh anak nelayan tua itu sekejap sirna sesaat bau busuk mengisi lendir-lendir penciumannya pertanda bahwa pasar ikan sudah dekat. Perlahan tapi pasti, langkah Wara semakin mendekati tujuan akhir. Semoga pedagang ikan yang membayar akan lebih menghargai cucuran keringat dari mahkluk kecil, tentara kehidupan. Begitu harapnya.
Sosok lelaki berkaos oblong menyambut Wara dengan sebuah pujian, kali ini deadline pengantaran lebih cepat dari biasanya, ditambah lagi datang tepat pada waktunya, disaat banyak konsumen mengerumuni pasar. Sesaat lelaki berbau ikan merogok tas pinggangnya untuk membayar usaha Wara, wajah cerah menggantikan wajah hitam legam Wara. Wara yakin kali ini akan memperoleh bonus atas segala ketepatan yang dia berikan. Lalu lelaki itu menyodorkan beberapa rupiah kepada Wara, Segera Wara merampas kemudian mulai menghitungnya, tetapi kini semua perkiraan Wara salah, tidak sepeserpun tambahan diberikan.Karena begitulah bisnis, harus ada yang dikorbankan, tanpa adanya penghormatan untuk setetes cucuran keringat. Terlihat ekspresi kekecewaan muncul di wajah Wara. Sembari mulai melangkahkan kaki menuju tempat peraduan, dia mulai memikirkan kembali rasa bersalah kepada ayahnya. Wara benar-benar tidak memiliki cara ampuh untuk menghapuskan rasa itu dari dalam sanubarinya.
Akhirnya seluruh rasa lelah telah tertumpah di pelataran teras rumah rotan, tempat Wara bersembunyi dari kehidupan yang keras. Rasa lelah yang tak terbendung hendak Wara bagikan bersama sang ibu. Beberapa kali Wara memanggil ibundanya, tetapi tidak satupun salam terbalaskan. Rasa penasaran sesaat muncul di pikiran Wara, apa yang sebenarnya terjadi. Ia berusaha mengetuk pintu rumahnya yang terkunci dengan sekeras-kerasnya tetapi tidak ada satupun jawaban. Tiba-tiba rasa penasaran Wara pecah sesaat sosok kecil muncul dari pintu tetangga sebelahnya.
'' Kakak.., ibu mengantar ayah ke puskesmas!'' kalimat singkat padat itu langsung menohok ujung rambut sampai ujung kakinya. Wara merasa selama ini telah terdustai oleh kata ''agak lebih baik'' dari ayahnya. Ternyata benar ada sesuatu yang meluluhlantahkan seluruh kesehatan kesatria kehidupan. Wara tidak mampu menerima semua ini, segera ia berlari menuju puskesmas untuk mengklarifikasi keadaan ayahnya. Benar saja, bakteri TBC telah menumpuk di paru-paru sang ksatria, bekerja mencari ikan di malam hari adalah penyebab semua ini. Wara tidak yakin akan dapat menerima semua ini jikalau bakteri TBC menghancurkan nelayan tua dan seluruh keluarganya.
Dua hari setelah kejadian menegangkan itu, efek besar dirasakan oleh keluarga Wara. Sang ayah kini hanya mampu terbaring lemah di kasur, bakteri TBC menghancurkan paru-paru sang kepala keluarga, sehingga, Wara harus muncul menggantikan pekerjaan ayahnya guna membantu penghasilan menjahit yang berasal dari ibunya. Sekarang Wara tak sempat lagi untuk mengenyam pendidikan, pendidikannya berakhir sudah tanpa sebuah prestasi, tanpa sebuah akhir yang membahagiakan,tetapi hanya dengan sebuah akhir yang memaksanya untuk terus bersedih memikirkan masa lalu saat dia bersekolah. Kini hanya sebuah rasa penyesalan yang dia miliki, bukan sebuah pemanfaatan kesempatan yang sempurna.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar