Minggu, 30 Agustus 2009

SIAPA SIH KAMU(PART 2)

Jika kamu adalah orang madura yang kasar dan tidak bisa memakai bahasa madura dengan tepat guna serta tepat waktu,kamu akan mengetahui secara detail arti Tok-ketok tetapi jika loe bukan orang madura yang seperti itu, ditambah lagi lue ga punya kerjaan, kata Tok-ketok bisa lue cari di kamus indonesia-madura, madura-indonesia.

Tok-ketok berarti pemotong, so ga heran kata tok-ketok menjadi fenomenal di kalangan anak-anak seusia gue waktu itu. Bahkan tok-ketok the legendary sabitman mengalahkan cerita box office the scream dari luar negeri. Begitu hebatnya tok-ketok mendoktrin anak-anak bahwa dia adalah sesuatu yang nyata, mengakibatkan dia selalu menduduki chart ketakutan teratas di pikiran anak-anak mengalahkan the scream atau setan luar negeri lainnya.

Then..

Timbul beberapa pertanyaan yang mengelitik logika dasar manusia tentang hubungan antara Tok-ketok dengan The scream seperti:
Apakah sama tok-ketok dengan the scream?
Jawabannya adalah TIDAK, tetapi kata tidak tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, karena masih terdapat beberapa persamaan antara tok-ketok dengan the scream antara lain:
1. Mereka sama-sama membunuh orang.
2. Keduanya sama sekali ga doyan soto sosis buatan nyokap gue. Tok-ketok suka singkong(ingat kejadian singkong warz), sedangkan the scream suka fastfood dan sejenisnya.
3.Mereka berdua sama-sama manusia tulen. Nyokapnya pada ga kawin sama jin dan sesamanya, ini bisa dilihat dari nyokapnya scream yang masih suka sama bule, begitupula nyokapnya tok-ketok masih suka sama juragan madura.



Setelah kita mengetahui persamaan keduanya, lalu bagaimana dengan perbedaan keduanya, antara tok-ketok dengan the scream.
So pasti jika ditanya seperti demikian jawabannya adalah sangat banyak. Mau tahu buktinya marilah kita baca paragraf berikutnya.
1. Sangat jelas dan tak perlu diragukan lagi, perbedaan yang mencolok antara Tok-ketok dengan Scream dapat diketahui dari KTP keduanya. Kalo Tok-ketok berdomisili di Madura, khususnya daerah Jalagatra. Sedangkan The Scream berdomisili di Amerika serikat. So...

Dapat disimpulkan domisili mereka berdua memang berbeda. Walaupun jarak mereka berjauhan tetapi internet tetap mendekatkan mereka. Kerap kali penjaga warnet memergoki mereka sedang asyik berchating ria, sambil foto-foto gitu di web cam. Duh mesra banget yah..!

2. Perbedaan yang kedua terletak pada jenjang pendidikan yang mereka tempuh. Sempat sekali gue bersua dengan Tok-ketok, serta sempat beberapa kali gue menikmati film The Scream. Dari dua kesempatan itu terlihat sangat mencolok sekali perbedaan dari kedua belah pihak, terutama dalam jenjang pendidikan. Scream sang maestro dunia perhantuan Amerika ternyata ijazah TK pun belum punya, terbukti beberapa kali dalam filmnya, dia hanya mampu berbicara, hooh..Hooh.., gitu doang ga kurang dan ga ditambahkan satu tanda baca pun. Hal berbeda gue simpulkan dari sosok Tok-ketok, sejak pertemuan pertama di ladang singkong dengan dia. Tok-ketok seolah mampu untuk menguntai kata-katanya dengan baik, walaupun dengan intonasi jawaisme. Pertanyaan Tok-ketok ''gue anak siapa'', itu sangat membuktikan bahwa orang indonesia pun tak kalah dengan produk impor. Setidaknya statement demikian dapat menjadi landasan berpikir kita untuk maju dan lebih maju melampaui negara Paman Sam, Amerika Serikat. Kita tidak perlu pesimis, kedua pembunuh ini telah membuktikannya.

Ini adalah statement terakhir yang membahas perbedaan antara Tok-ketok dengan The Scream. Perbedaan terakhir ini sangat membuktikan keunggulan Tok-ketok dibandingkan The Scream.

Marilah kita buktikan.

Jika sempat beberapa kali kita melihat film The Scream, tidak bisa kita sangkal bahwa The Scream adalah salah satu pembunuh yang tidak bisa bersosialisasi.
Kenapa?
Karena topeng diwajahnya itulah dapat menjadi sebuah argument yang sangat kuat. Berbeda jika pada suatu hari nanti tuhan mengizinkan kita bertemu dengan Tok-ketok, lu akan merasakan sebuah atmosfer keakraban antar insan manusia yang luar biasa. Bayangkan saja, baru pertemuan pertama dengan gue di ladang singkong, dia sudah menanyakan gue anak siapa(lupakan tentang menamparnya), ditambah lagi Tok-ketok tidak menggunakan topeng, sehingga dia dapat mengikuti pengajian bersama, ikut karang taruna dan kerja bakti, serta dapat ikut menjadi panitia lomba 17 agustus. Ini semua dikarenakan tanpa topeng itu pertanda bahwa Tok-ketok lebih membuka diri kepada masyarakat sekitar.


Berdasarkan uraian tentang perbedaan The Scream dengan Tok-ketok, dapat kita simpulkan bahwa Tok-ketok ternyata lebih mendominasi di dalam beberapa persyaratan mencapai karir seperti tingkat pendidikan serta sifat sadar bersosialisasi yang lebih unggul daripada The Scream. Tetapi mengapa karir Tok-ketok hanya berhenti sebagai pencari tumbal jembatan Suramadu saja, sedangkan teman seprofesinya, The Scream karirnya terus melejit hingga film yang dibintanginya menembus box office, Hollywood. Apa yang salah dengan Tok-ketok, bukankah argument yang telah dijabarkan sangat mendukung sekali sebagai dasar tempat pelejitan karir Tok-ketok?
Mungkinkah ini semua akibat dari manajemen yang tidak tertata dengan rapi?
I don't know
tetapi terlepas dari semua pertanyaan itu, sekiranya kita mampu mengambil hikmah dari semua ini. Dan berusaha untuk memperbaikinya.

Amiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar